Individu tidak memperebutkan makanan, ruang atau sumber-sumber…. Individu memperebutkan kekuasaan dan-atau status sehingga dapat mengontrol segala-galanya ungkap maestripieri dalam bukunya “macachiavellian Intelligence”
Sebaris kalimat yang gw baca di sebuah artikel membuat gw merenung….
Kayaknya sih bener juga…
coba gw telaah dengan cara seksama dan dalam tempo yg sesingkat-singkatnya….
Gw jadi inget teori maslow tentang peningkatan kebutuhan, dari yang paling basic, hingga yang paling luxurios…. Model yang dapat digunakan untuk menjelaskan juga pergeseran kebutuhan akan kekuasaan, status dan kontrol…
Mula-mula seseorang tidak terlalu memikirkan kekuasaan, status dan kontrol karena yg penting bisa survive dulu, lama-lama sejalan dengan berjalannya waktu, setelah mampu beradaptasi dan mengembangkan dirinya ke suatu tingkat yang lebih baik, kekuasaan, status and kontrol pun menjadi sebuah kebutuhan yang tidak terelakkan
Dan ketika waktunya tiba, ketika kekuasaan, status and kontrol semakin menjadi menarik, menjadi seakan-akan kebutuhan dasar sang individu, mulailah friksi-friksi bermunculan, dari skala kecil hingga skala besar….
Perbedaan pendapat yang didasari perbedaan sudut pandang, atau lebih jujurnya mungkin perbedaan kepentinganpun bermunculan.
Hmmm… kayaknya lebih enak menggunakan kata-kata perbedaan kepetingan… karena perbedaan kepentingan toh lahir dari sebuah pemikiran yang berbeda… dari sebuah sudut pandang yang berbeda…
Jadi inget jargon politik yang amat sangat terkenal…. Tidak ada kawan dan musuh yang abadi kecuali kepentingan….
Itu kayaknya sangat relevant…. Ga peduli apakah orang itu sudah pernah berjasa pada dirinya.. atau bahkan pernah sangat men-zholimi dirinya… selama kepentingannya selaras pada saat itu… Pada detik itu… why not… life goes on… ga perlu mikirin dendam or balas jasa khan….
Ga perlu pake perasaan karena cuman ngundang penyakit semacam stress or stroke…
Hidup khan kayak roda… kadang di bawah kadang di atas… kapan lagi bisa di atas… en berapa lama harus bisa di atas sebelum akhirnya kembali ke bawah… nah individu pun berusaha untuk mempertahankan posisi di atas dan naik semakin ke atas…
Dan mumpung di atas… Nikmatilah…. Sebelum waktunya usai…
Di era informasi yang semakin canggih…. ternyata dunia yang kita tempati ini hanya selebar daun kelor… nanti ketemunya dia-dia juga… ya udah…ga perlu dendam khan… sapa tau suatu saat nanti akan bekerja sama lagi untuk sebuah kepentingan yang saat itu sama…
Tapi pertanyaannya, Apakah itu termasuk orang-orang yang munafik ya… atau bermuka dua… khan jelas-jelas… Allah tidak menyukai orang-orang yang munafik dan mengancam akan memberikan sanksi yang luar biasa keras…
Lha…. Lantas gimana dengan oknum-oknum politik….. Oknum-oknum anggota dewan yang terhormat atau oknum-oknum pemerintahan… Yang menurut mereka bermuka dua adalah syarat wajib untuk meraih kesuksesan… berpolitik tergantung kepentingan…. Para Munafikus… munafikus…
Darwin pernah berkata… “Bukan yang paling kuat atau terbesar yg akan bertahan, namun mereka yang selalu merespond perubahanlah yang akan bertahan hidup..”
Pertanyaannya kemudian, apakah upaya selalu merespond perubahan dalam rangka bertahan hidup sama dengan menjadi munafikus ?
Dan ternyata…
politik ga hanya terjadi di pemerintahan… tetapi terjadi dimana-mana…. di tempat kerja… Di keluarga… Di organisasi agama… Dll…
Alesannya… ya karena itu tadi…. Kepentingan…
Nah lho….
Konflik kepentingan semakin diperuwet alias diper-parah dengan semakin banyaknya manusia yang membuat kompetisi untuk memperebutkan kekuasaan, status dan kontrol semakin berat….
Lantas… dimana letak Persahabatan…. kedamaian… ketentraman…. kebahagiaan…
Apakah manusia memang benar-benar makhluk individualistis….. non sosialis ?
kalo iya, baru dech gw ngerti akan petuah para orang tua dulu yang mengatakan bahwa rahasia yang paling aman adalah rahasia yang dibagi dengan kematian bukan dengan satupun manusia… musti hati-hati nich kalau mau curhat… Mending curhat sama binatang kayak ikan koi di kolam gw aje… Atau batu sekalian….
Tapi kalo manusia bukan makhluk sosial….
Knape banyak bantuan disalurkan ketika bencana datang….
Atau ini juga ga lepas dari masalah kepentingan ???
nah lho… kepentingan apakah yang dimaksud….
Udang apakah yang ada di balik batu ?
Wah… kata-kata ikhlas bener-bener makin langka dong….
Bagai mencari sebutir berlian ditengah timbunan batu….
Pantes ya dulu bokap gw pernah bilang….
Antara syirik dan enggak itu bagaikan berjalan di titisan rambut dibelah tujuh….
Antara ikhlas dan enggak ternyata seperti itu juga… bagaikan berjalan di titisan rambut dibelah tujuh….
No Such Free Lunch !!!
Wah, makin ngejelimet….
Coba gw merenung lebih dalam dulu untuk mencari benang merah yang lebih positif antara …. Kekuasaan, kontrol, kedamaian, kebahagiaan, ikhlas…. Moga-moga ketemu…..
Atau harus menjadi bau tanah dulu (tua bangka) baru bisa menemukan benang merah tersebut ?
Tingtong….
Apalagi nech… Bijaksana equal dengan umur kah ?
Helal ®
The power of network, knowledge and love
www.helallf.wordpress.com
liesurya berkata,
Januari 5, 2011 pada 2:17 pm
Saya teringat sebuah tulisan, “If money doesn’t make you happy then you probably aren’t spending it right.”
Barangkali sama halnya, jika kekuasaan & status tidak membuat kita bahagia, dalam arti bahagia yang sesungguhnya danbersifat langgeng, maka kita mungkin sedang tidak menggunakan kekuasaan & status kita dengan semestinya..
liesurya berkata,
Januari 27, 2011 pada 7:32 pm
Posisi kadang identik dgn kekuasaan atau status sosial. Anyway, baru aja saya dengar Rene di radio hardrock fm tadi pagi.. yg penting bukan apa posisi kita, tetapi apa kontribusi kita. Itu lebih membawa meaning.. atau lebih memberi makna/ arti..
ferry berkata,
Maret 19, 2011 pada 6:36 am
Manusia memang haus harta dan kekuasaan, makanya manusia tidak pernah puas.
Tapi coba lihat video dbawah ini: