Tukang koran di persimpangan jalan

Tukang koran di persimpangan jalan

“Koran pak….” Tawar sang anak lirih dengan muka penuh harap….

Gw perhatiin ini anak ga seperti anak jalanan pada umumnya, lebih kelihatan cerdas, dengan badan hitam legam akibat panas matahari dan berbedak asap knalpot kendaraan.

Dengan badannya yang kecil, dia membawa tumpukan koran dagangannya dari satu mobil ke mobil yang lain, memanfaatkan lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, mencoba mengais rejeki diantara menit-menit pergantian warna.

Gw sebenarnya bingung juga, knapa juga ada orang yang masih beli koran, wong dengan kemajuan teknologi yang ada kita bisa akses semua informasi dalam sekejap dengan gratis….. paling bayar bulanan internet aja yg udah flat rate alias ngambil paket unlimited.

“Koran pak…”

Tangan gw bergerak hendak mengangkat… memberi tanda untuk menolak tawarannya…. Tapi entah kenapa tiba-tiba gw teringat sesuatu… saat masa kecil gw yang pernah ngerasain berjualan koran, berkeliling dari satu komplek ke komplek yang lain bersama teman-teman yang memang menggantungkan sebagian hidupnya dari berjualan koran, untuk membiayai sekolah mereka, untuk yang mencari uang jajan sekedarnya.

Teman-teman gw waktu kecil dulu, berjualan koran murni karena himpitan ekonomi, bukan kayak gw yang cenderung cari pengalaman baru teriak-teriak kayak soang menawarkan koran dagangan gw tanpa terlalu peduli mau laku atau tidak.

Gw masih inget, betapa teman-teman gw menghitung lembar demi lembar uang kertas yang terkumpul dari penjualan koran hari itu, menghitung komisi yang mungkin akan mereka dapat hari itu, mengingat raut wajah mereka yang sedih atau gembira….

Mereka yang terpaksa mengorbankan masa kecil mereka membantu bapak-ibunya mencari sesuap nasi…

Damn teknologi !!!!

Sontak gw mengutuk kemajuan teknologi….

Sapa bilang kemajuan teknologi semakin mendekatkan manusia dengan manusia… bohong !!!

Yang ada semakin menjauhkan manusia terutama dengan kaum marginal yang terpinggirkan.

Kemajuan teknologi memang bagai pisau bermata dua, kemajuan teknologi yang berkiblat kepada automatisasi, digitalisasi secara tidak langsung menghajar kaum marginal.

Atas dasar jargon efisiensi, efektifitas, produktifitas, semua perkerjaan manusia secara perlahan-lahan diganti dengan mesin yang bahasa kerennya lebih dikenal dengan automatisasi.

Cumi !!!

Negara kita ini kebanyakan penduduk…. Terutama penduduk miskinnya…

Yang bekerja lebih banyak dengan otot ketimbang otak…. gimana mereka mau cari duit kalau semua diganti dengan mesin.

Gw tau kemajuan teknologi adalah suatu hal yang ga terelakkan, tapi….

Gimana mereka mau bertahan hidup kalau harus bersaing dengan benda mati…. Mesin…. Yang nggak punya rasa lapar.. perasaan… pikiran…

Memang dah… yang kaya semakin kaya…. Yang miskin semakin miskin…. Ancaman kemiskinan struktral-pun semakin nyata, bapaknya miskin anaknya semakin miskin… karena sang bapak tidak bisa memberikan kesehatan dan pendidikan yang mencukupi, sebagai bekal sang anak untuk menjalani hidupnya

Mana jargon-jargon pendidikan gratis, kesehatan gratis yang dijanjikan…. Murni gratis… ga juga khan… ada aja… biaya inilah… biaya itulah…

“Hell you Trias Politica !!!”

Elo semua bikin aturan ga boleh ngasih uang ke pengamen, pengemis di perempatan jalan, ga boleh beli dagangan di perempatan jalan, tapi elo semua juga nggak ngasih solusi mereka harus bagaimana ? gimana mereka mau cari duit buat bertahan hidup ?

Apa ? elo jadiin mereka preman berseragam ? buat menghantam rakyat miskin lainnya yang dengan terpaksa mereka melanggar peraturan dengan berjualan dipinggir jalan, tinggal di kolong jembatan, di bantaran kali.

Hey man…. If they have money, mana mau sih mereka kayak gitu… cuman orang gila yang bener-bener gak waras yang mau kayak gitu.

Kita semua disuruh bayar pajak dengan alasan untuk membangun negara ini, mengurangi kemiskinan… eh lah dalah… dikorupsi, ga tanggung-tanggung…. Yang korupsi kolaborasi oknum-oknum “Trias Politica”, pantes aja… gak bakal selese en terungkap tu kasus-kasus korupsi yang gede-gede… kecuali kalau dah pada mati kali ya…

Semuanya asyik berebut kekuasaan…. Dengan dalih atas nama rakyat… ga tau rakyat yang mana… uang ratusan juta habis buat pemilihan ini pemilihan itu…. Dan untuk balik modal mereka akhirnya asyik berkolaborasi untuk korupsi sana sini….

Sudahlah daripada mikirin para oknum trias politica mending kita mencoba mensosialisasikan sedekah… supaya bisa membantu saudara-saudara kita yang lain… yang nggak seberuntung kita….

Tapi negeri ini emang negeri aneh… meskipun banyak orang miskinnya…

Orang yang memiliki uang lebih mau sedekah pun susah… ada orang yang berniat beramal malah masuk penjara…. Gila nggak…. Sementara para koruptor… Halah… Sontoloyo !!!

“Koran pak…” suara lirih itu menyadarkan gw dari lamunan dan emosi sesaat….

“ya satu…. Seraya menyodorkan selembar uang”

“Kembalinya pak…”

Gw cuman tersenyum… Lampu lalu lintas sudah hijau… sementara di ujung sana seseorang memperhatikan dengan pandangan tajam sembari mengeluarkan buku tilangnya.

Helal ®
The power of network, knowledge and love
www.helallf.wordpress.com

1 Komentar

  1. hari berkata,

    Mei 4, 2010 pada 11:02 am

    Nice reading bro..
    Pada akhirnya,semua kembali ke diri masing2 ya…bagaimana pun aturannya..


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.800 pengikut lainnya.